Dalam sambutannya Kepala Balitbangda Kabupaten Jayapura mengungkapkan sulitnya penggunaan bahasa ibu di daerah perkotaan karena lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia untuk berinteraksi. Apalagi sangat sulit bila bapa dan ibunya berasal dari daerah yang berbeda misalnya bapaknya Jawa dan ibunya bugis maka akan sulit untuk mengajarkan anaknya salah satu bahasa dari kedua orangtuanya. Untuk penggunaan bahasa ibu di Kabupaten Jayapura sendiri ada bahasa Sentani, Tepra, Kemtuk, Namblong dan lainnya yang digunakan. Untuk itu sudah dilakukan upaya – upaya penyelamatan bahasa daerah dengan membuat kamus bahasa daerah. Kerja sama Balitbangda Kabupaten Jayapura dan Universitas Cenderawasih Unit Pemberdayaan Perempuan  adalah untuk mempertahankan bahasa ibu pada masyarakat asli Papua khususnya di Kabupaten Jayapura.   

https://drive.google.com/file/d/14neGPpiWdllDLoO-tNXu8adJtcIrhIPV/view?usp=sharing

Penulis             : Pilipus M. Kopeuw, S.Th, M.Pd     

Penerbit           : ARIKA Publisher

SENTANI MENANTI PELANGI

        Sebuah pengamatan dan analisis terhadap dinamika dari masyarakat asli yang mendiami Danau Sentani, yakni masyarakat phuyakha, bahwa telah terjadi degrasi dan pergeseran-pergeseran nilai dan implementasi budaya. Sadar atau tidak, budaya Sentani sudah mulai melenceng dari yang seharusnya. Beberapa hal yang turut memuluskan pergeseran budaya tersebut, adalah masuk pendidikan, masuknya agama, masuknya budaya baru hingga pengaruh melonjaknya nilai rupiah.

            Generasi muda suku Sentani, sebagian besar tidak tahu lagi bahasa ibunya. Mereka hanya tahu bahasa Indonesia, padahal mereka anak-anak asli suku Sentani. Pengaruh alat pembayaran Indonesia yakni rupiah turut mengambil tempat dalam sistem pembayaran maskawin dan pembayaran harta kepala (yung). Masyarakat asli Sentani tidak bisa membedakan mana yang termasuk dalam adat dan mana yang bukan. Sistem kekerabatan dan rasa solidaritas kesukuan, sepertinya perlu dipikrkan lagi kegunaannya dalam jaman modern yang kompetetitif. Mempertahankan tradisi  atau tergilas dan termarginalkan oleh kemajuan jaman. Bagaimana kesadaran masyarakat asli Sentani sendiri terhadap budayanya? Bagaimana kesadaran generasi muda Sentani yang cukup berpendidikan terhadap budayanya? Bagaimana kebijakan para pejabat yang adalah asli anak-anak Sentani yang menjabat sebagai kepala-kepala Dinas dan anggota DPR dari Kabupaten/Kota, Provinsi hingga di DPR-RI

            Hal inilah yang mendorong penulis untuk menulis buku ini yang diberi judul “ Sentani Menanti Pelangi (Suatu Kajian Refleksi dan Perenungan)”. Penulis ingin mengajak semua orang untuk berpikir dari berbagai sisi untuk menyelamatkan Sentani dari eksistensinya sebagai suatu suku bangsa.  


apel pagi

Buku ini ditulis karena adanya fenomena yang salah menurut pandangan penulis. Masih banyaknya aparatur sipil yang berkerja di Pemerintah Daerah Kabupaten Jayapura yang tidak sepenuhnya mendukung aturan pelaksanaan apel pagi.

Hasil kajian sederhana yang dilakukan penulis adalah merupakan pandangan yang perlu mendapat perhatian secara serius, dimana sudah dinaikkan Tunjangan Lauk Pauk dari sebesar Rp 20.000,- per hari menjadi Rp 40.000,- per hari kurang memberikan dampak yang berarti bagi pegawai dalam mengikuti apel pagi.

Hasil kajian sementara menunjukkan bahwa jumlah absen hadir pegawai di setiap kantor juga tidak mengalami peningkatan, karena ternyata absen menggunakan sidik jari juga tidak berfungsi dengan baik dan rekapitulasi absen juga masih menggunakan manual.

Dengan ditulisnya buku ini semoga dapat memberikan harapan yang lebih baik dalam meningkatkan disiplin aparatur di lingkungan pemerintah Kabupaten Jayapura. Karena dengan disiplin yang baik akan dapat meningkatkan kinerja yang lebih baik.

 


                    lIHAT PDF

 

 

 

perspektif disiplin aparatur sipil negara di kantor bupati jayapura

 

 

Tidak akan Ada Inovasi tanpa Riset


PEKANBARU, RIAU — Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengatakan negara maju bukan karena jumlah penduduknya yang besar. Melainkan karena memiliki inovasi yang tinggi.

“Namun, riset adalah masalah utama kalau mau berinovasi. Tidak akan ada inovasi tanpa riset,” kata Nasir saat memberikan arahan pada Pembukaan Kegiatan Ilmiah bertema “Riset, Inovasi Menuju Ekonomi Era Industri 4.0” di Pekanbaru, Riau, Kamis (9/8).

Nasir mengatakan negara maju inovasinya tinggi pasti juga memiliki riset yang juga tinggi. Karena itu, sejak menjadi Menteri, dia berupaya meningkatkan riset yang ada di Indonesia.

Salah satu upayanya adalah dengan menggandeng Kementerian Keuangan agar para peneliti Indonesia tidak lagi disibukkan dengan pertanggungjawaban keuangan, tetapi lebih fokus pada publikasi dan purwarupa.

“Dengan perbaikan infrastruktur kita akan dorong agar riset ke depan bisa semakin baik,” ujarnya.

Menurut Nasir, dia pernah menyampaikan ke Presiden Joko Widodo bahwa riset yang ada di kementerian/lembaga jumlahnya sangat banyak, perlu diintegrasikan agar menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi seluruh rakyat.

Nasir memberikan arahan pada Pembukaan Kegiatan Ilmiah bertema “Riset, Inovasi Menuju Ekonomi Era Industri 4.0” dalam rangka Hari Kebangkitan Teknologi Nasional XXIII 2018 . Pembicara kunci pada acara tersebut adalah Presiden Ketiga Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie. (REPUBLIKA.CO.ID)

 

Vivamus id euismod massa. Suspendisse orci est, cursus quis efficitur quis, porttitor sit amet justo. Sed ac orci felis. Phasellus commodo arcu placerat purus vulputate fringilla. Vivamus rutrum eu tortor non ultrices. Proin posuere porta ligula, id fermentum nisl vestibulum id. Nunc id neque ac magna fringilla ultrices vel quis sem. Fusce a sem vel nunc sollicitudin consectetur. Suspendisse gravida tempor diam, eget imperdiet dui dictum a. Aliquam hendrerit aliquam vehicula. Integer feugiat arcu sapien, in facilisis lacus rutrum eu. Pellentesque eget fringilla odio, et vestibulum turpis. Proin sit amet venenatis nisi.

Nemo enim ipsam voluptatem quia voluptas sit aspernatur aut odit aut fugit, sed quia consequuntur magni dolores eos qui ratione voluptatem sequi nesciunt. Nemo enim ipsam voluptatem quia voluptas sit aspernatur aut odit aut fugit, sed quia consequuntur magni dolores eos qui ratione voluptatem sequi nesciunt.

Vivamus id euismod massa. Suspendisse orci est, cursus quis efficitur quis, porttitor sit amet justo. Sed ac orci felis. Phasellus commodo arcu placerat purus vulputate fringilla. Vivamus rutrum eu tortor non ultrices. Proin posuere porta ligula, id fermentum nisl vestibulum id. Nunc id neque ac magna fringilla ultrices vel quis sem. Fusce a sem vel nunc sollicitudin consectetur. Suspendisse gravida tempor diam, eget imperdiet dui dictum a. Aliquam hendrerit aliquam vehicula. Integer feugiat arcu sapien, in facilisis lacus rutrum eu. Pellentesque eget fringilla odio, et vestibulum turpis. Proin sit amet venenatis nisi.